[ENLIGHTENMENT]: Susahnya Jadi Perempuan Lajang (Edisi Curhat!)
November 3rd, 2008 by s-dewi77“Apa kabarnya, Shita? Sekarang anaknya udah berapa?”
“Eh,..mana suaminya, bu? Kok ndak diajakin siy,..?”
“Sssst,..itu calon kamu ya? Kok nggak di kenal2in siy? Jangan diumpetin dong,..di share,..biar kita doain supaya bisa segera married.”
“Duh bisa aja ya kamu bu? Laki-laki mana lagi tuh yang kamu bawa?”
“Kemana aja bu, kok nggak kliatan?! Ngilang lama banget,..jangan-jangan dah married ya? Kok nggak bilang2?”
“Masih single aja bu? Kok belum married juga? Udah bu,..jangan terlalu milih-milih lho. Haree gini lhoh. Jumlah perempuan lebih banyak dibanding laki-laki, jadi buruan daripada kehabisan stock.”
“Mbak,..inget lho. Kamu sudah kepala 3 (ouuuuch!!!). Adek-adekmu kan juga pengin segera married. Ayo kamu segera kenalin calonmu ke mama&papa, kalo dah sreg, mama&papa dah siap kok mbak. Siapapun pilihanmu, kalau kamu rasa baik ya mantapkan. Gih buruan, nduk…”
“Ini anak saya yang nomer dua, mbakyu. Ini dagangan saya, mbakyu. Kerjanya ok, udah S2 tapi belum juga married. Ada calon untuk anak saya, mbakyu? Anak panjenengan atau keponakan mungkin?”
“Makanya bu,..kamu tinggalin tuh Tarot-Tarot-anmu. Gak ada gunanya kamu bantu-bantu orang banyak klo akhirnya kamu malah jauh jodoh. Dengerin omonganku deh, bu”
“Hai Sit! Kok status di facebooknya masih single? Mpe kapan, non?”
“Boleh tanya sesuatu nggak, mbak? Mbak ini cantik, pinter, ramah dan menarik,..kok belum juga married? Kenapa?”
“Live on Birthday Beat HRFM Surabaya: Ini sudah ada Shita Tarot Counsellor yang bisa kamu tanya-tanya tentang hidupmu. Shita,..hari ini yang ultah brondong lho, masih 23 th. Kamu pasti suka,…Ya kan tante?”
“Shita? Masih single juga dia? Dan 30an lebih kan umurnya? Kesian,..nasibnya memang gak oke untuk urusan cinta.”
“Shita, gimana akhirnya? Married juga ma si mr X bu?”
“Shita,..sekarang kamu jalan ma siapa? Trus kapan rencananya bu? Tunggu apalagi? Semua dah mapan kan? Ayo bu buruan,..aku dah mau dua kali lhoh,..”
“Masih sibuk main-main, mbak? Gak capek apa? C’mmon,..udah gak waktunya kamu begajulan kayak gitu. Waktunya serius untuk married lho mbak,..”
“Shita ini usianya berapa ya? Jarak berapa tahun ya dengan putra tante?”
“bla,..bla,..bla,..bla!! @#@#32#%%&%@!!*gykmbgerr&*..!! “
Klo mau ditulis,..sebenernya masih banyak lagi siy,..
Mungkin bisa sampai 2-3 lembar sendiri,..hahaha! Dari yang paling soft sampai yang paling bikin telinga panas plus mendidihkan hati hingga tak jarang bikin semangat hidup drop. Mumpung gi dalam “mode on” curhat,…mungkin tulisan ini bisa jadi jawaban dari berbagai pertanyaan yang ditanyakan oleh orang-orang sekitarku tentang kondisiku yang tetap lajang meski usiaku dah menginjak 32 th,..segera
Bagi beberapa perempuan hebat yang aku kenal, hidup melajang adalah suatu pilihan yang permanen hingga menikah tak lagi ada dalam daftar mereka,..sementara yang lainnya menganggap hidup melajang adalah keterpaksaan akibat keadaan.
Aku? Aku lebih suka mengatakan bahwa hidup melajang adalah suatu pilihan sementara. Sampai detik ini, aku belum beruntung mendapatkan pria yang pas untuk diajak ke taraf yang serius, yaitu menikah. Belum beruntung mendapatkan seorang calon suami yang “click” dengan keadaanku, click timing-nya, click keluarganya dll
Dibilang pilih-pilih rasanya siy wajar saja,..Beli buah di supermaket aja juga mesti dipilih to? Apalagi milih bojo? Heuheuheu,..Jelaseee,..!
Aku lebih memilih masalah hati, bukan karena pertimbangan materi, atau gengsi,..yang penting nyambung alias click, punya passsion yang sama sehingga kami akan tumbuh berkembang bersama dan yang terpenting adalah memiliki hubungan yang didasari komunikasi yang terbuka dan intens!
Value yang aku hargai banget,..lebih dari materi dan status sosial,..
Materi? Bukan berarti ndak butuh,..(hareee gini!) tapi aku yakin, materi bisa dicari barengan, toh aku juga bekerja hingga kami bisa berperan secara team work. Tanggung jawab finansial bukan hanya padanya, akupun punya tanggung jawab yang sama untuk masa depan keluarga kecil kami (ngimpi nak! (^_^))
Status sosial? Siapa siy yang ndak kepingin punya bojo yang membanggakan seperti orang-orang itu. Dokter kek,…Anak pejabat mungkin? Artis? Politisi? Direktur di perusahaan nomer 1 di Indonesia (klo perlu kaliber dunia malah)
Rasanya ini adalah harapan sejuta umat di dunia, bo…Siapa siy yang ndak? Anda sendiri juga kan? Hohohoho,..c’mmon get real!
Well,…justru karena aku mencoba untuk lebih realistis maka aku sekali lagi tidak menjadikan ini standart utama dalam menentukan calon suami yang pas untukku nanti. Tapi kalau Allah memberikannya sebagai bonus,..ya Alhamdulillah,..
Tentang keputusan untuk menikah, juga bukan barang baru untukku. Beberapa kali aku nyarisssss,…untuk menikah.
Udah pacaran 3 tahun, fight abis-abisan untuk bisa nikah,..eh batal karena dia-nya kecantol pager di jalan,..haha!
Udah pertemuan keluarga,…batal pula karena mantan pacarnya ternyata lebih menjanjikan ketimbang diriku
Udah berusaha untuk menerima dia apa adanya meskipun ada yang sedikit timpang disana sini,……eh batal pula hanya gara-gara berita tentang ke-lajangan-ku terpampang sukses di harian terkemuka di Jawa Timur pas bulan Mei lalu hingga bikin maminya shock berat karena ternyata oh ternyata,… (^_^)
Yang terakhir,…aku sempet berusaha semampuku untuk open mind (karena pertimbangan persetujuan orang tua) meskipun bukan typeku dan gak nyambung,..eh gak bisa juga karena ternyata dia tidak cukup menggilaiku (trus ngapain aku maksain diri juga?! Hahaha! No thx deh,..)
Apes? Hmmm,..gak juga,..belum beruntung mungkin,..Hahaha! (enaknya menertawakan diriku sendiri,…)
Jadi folks,..aku memang belum beruntung untuk bisa menikah, tapi bukan berarti aku tak ingin lagi menikah,..atau bahkan yang terburuk,..buru-buru untuk menikah bikin asal tubruk saben ada pria mendekat,..hahaha!
NO NO NO! Sama sekali tidak…
Anda salah sangka jika mengira aku melakukan hal itu,..
Aku akan melepas masa lajangku jika aku YAKIN padanya dan tentunya dia juga yakin padaku. Kami saling meyakini bahwa kami akan jadi team yang hebat untuk rumah tangga kami.
Aku akan menikah jika memang kami yakin pernikahan adalah langkah kami selanjutnya,..
Sedikit tips yang aku dapat dari beberapa sumber,…konon jangan pernah kita melepas masa lajang hanya karena alasan:
-
UANG, ini alasan yang buruk karena pernikahan bukanlah lembaga transaksional berbasis bisnis
-
ANAK, setiap perempuan pasti ingin punya anak tapi jika menikah hanya karena semata-mata ingin punya anak akan berbahaya. Tidak sadarkah jika memiliki anak berarti juga haus mengasuh, membimbingnya bersama pasangan. Lalu bagaimana jika ternyata dia bukan pasangan yang pas untuk itu?
-
TARGET, semuanya pasti punya target termasuk menikah. Nah,…jangan pernah memaksakan menikah hanya gara-gara karena harus menikah sebelum usia 33 tahun. Masa maksain diri dinikahi seseorang yang bahkan tidak nyambung dengan kita? Penginnya pernikahan sekali seumur hidup kan?
- TEKANAN SOSIAL, bukan rahasia umum jika pertanyaan yang sering ditanyakan oleh orang sekitar ketika kita berusia diatas 30 tahun adalah tentang kapan & dengan siapa kita akan menikah. Menikahlah karena dirimu sendiri,..bukan karena ibumu,..bapakmu atau bahkan hanya karena semua sahabatmu sudah menikah dan memiliki anak.
Ngeles? Atau dianggap alasan-alasan itu adalah pembenaran dari kenyataan kenapa hingga kini aku masih juga melajang? Alasan-alasan halus dari underlined stigma = TIDAK LAKU? (oooouch!!)
Hmmm,..orang boleh saja ber-opini, setidaknya ada satu hal yang aku tahu pasti, yaitu hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan kita. Kita hidup untuk menghadapi kenyataan kehidupan yang tentunya tidak selalu menyenangkan untuk dijalani. Dan tahukah anda bahwa, “Dunia tidak mengabdikan dirinya untuk membuat kita bahagia?” Kalau kita memahami ini, maka kita akan mulai menerima kesulitan dalam hidup sebagai tantangan dan ujian-ujian untuk membentuk karakter yang terbaik dari kita. Pada akhirnya kita pun sadar bahwa semua memiliki harga yang harus dibayar. Semuanya datang sebagai hasil dari waktu, usaha, pengorbanan, dan penderitaan. Karena kehidupan memang sulit. Rasa sakit memang tak ter-elakkan tapi penderitaan itu adalah suatu pilihan.
“Shits happens ! (sometimes or always?)” (^_^)
Kesuksesan seseorang dalam menghadapi hidup sebenarnya tergantung pada seberapa baik kita bisa mengatasi kesulitan, apakah kita akan melarikan diri atau menghadapinya, apakah kita akan menciut karenanya atau berkembang karenanya, apakah kita akan menyerah atau ingin memperoleh kemenangan darinya?
Masa mau nyerah hanya gara-gara pasangan memilih meninggalkan kita karena takut kalo kita akan menuntut pernikahan padanya? Gak banget kan?
Dan aku memilih untuk sementara melajang sambil berharap yang terbaik terjadi (yaitu menikah dengan pria yang terbaik yang dikirimkan Allah untukku) namun aku tetap menikmati hidupku dengan hati yang ikhlas dan pikiran yang open mind.
Tetap bergaul seluas-luasnya tanpa membeda-bedakan.
Melibatkan diri di berbagai organisasi yang bermanfaat.
Mencoba berbagai hal baru yang bisa meng-optimalkan pribadi seorang Shita.
Mauku,..aku tidak ingin perempuan lajang atau kasarnya perawan tua (begitu orang awam menyebutnya) selalu dianggap sebagai orang yang selalu memiliki stigma negatif sebagai sosok yang sengit, galak, jutek, nyinyir dll.
We’re single, happy, enjoying our life and still useful for others,..
And now we’re not stepping on others’ feet, rite?
So why everybody always think that we’re bitches or even the sinners?
Hahaha! Memang paling gampang menghakimi orang,..
Parahnya yang mencemooh adalah justru orang-orang yang sudah terlebih dahulu menikah yang notabene lebih beruntung dibanding kami,..(atau jangan-jangan saat ini mereka terjebak pernikahan yang tidak lagi mereka inginkan sehingga mereka mendambakan kehidupan lajang? Maaf,…heuheuheu)
Lalu?
Biar saja jika orang-orang tetap mencibir setiap tahu hingga kini, aku masih juga “betah” melajang (siapa bilang betah, hayo! Menerima dan meng-ikhlaskan siy iya,..haha!)
Aku juga akan ikhlas kalo ada pria yang takut-takut deketan ma aku karena langsung mikir aku bakal segera minta dinikahi (jangan GR deee! Gak segitunya jg tuh)
Aku juga akan berbesar hati jika ada “calon ibu mertua” yang mempertanyakan kenapa hingga sekarang belum juga menikah dan berusaha memberikan alasan yang terbaik kenapa aku setuju dinikahi putra mereka,..(nyerah deh klo dah urusan yang beginian,..A mom will do her best for her son, rite? I believe I’ll do the same to my beloved boys)
Aku gak takut,…selama niatanku baik,..
Yang penting aku gak nyolong,..Kenapa ribut?!
Kan aku gak ngerebut atau selingkuh ma pacar atau suami mereka,..Kenapa heboh bikin gosip?!
Ngerugiin mereka juga gak,..
Heuheu,..(kok yakin bu? Siapa tahu mereka takut ma kamu yg masih juga melajang? Heuheuheu)
Yang penting aku tetep rendah hati & ndak over acting dalam menanggapi ketidakberuntunganku untuk yang satu itu. Aku yakin suatu saat perbendaharaan kata-kata celaan mereka juga akan habis pada waktunya,..yaitu pada saat mereka menerima undangan pernikahan dariku,..
Yang terdengar pasti, “Shita married? Akhirnya,..”
Hahaha!! Amien,..segera!
Hmmmmm,..susahnya jadi lajang,..eits diralat,..
“Akan kunikmati saja dulu masa lajang-kuw hingga saatnya tiba!”
Ditulis sebagai jawaban atas banyak pertanyaan yang muncul beberapa tahun terakhir,..