[ENLIGHTENMENT]: Susahnya Jadi Perempuan Lajang (Edisi Curhat!)

November 3rd, 2008 by s-dewi77

“Apa kabarnya, Shita? Sekarang anaknya udah berapa?”

“Eh,..mana suaminya, bu? Kok ndak diajakin siy,..?”

“Sssst,..itu calon kamu ya? Kok nggak di kenal2in siy? Jangan diumpetin dong,..di share,..biar kita doain supaya bisa segera married.”

“Duh bisa aja ya kamu bu? Laki-laki mana lagi tuh yang kamu bawa?”

“Kemana aja bu, kok nggak kliatan?! Ngilang lama banget,..jangan-jangan dah married ya? Kok nggak bilang2?”

“Masih single aja bu? Kok belum married juga? Udah bu,..jangan terlalu milih-milih lho. Haree gini lhoh. Jumlah perempuan lebih banyak dibanding laki-laki, jadi buruan daripada kehabisan stock.”

“Mbak,..inget lho. Kamu sudah kepala 3 (ouuuuch!!!). Adek-adekmu kan juga pengin segera married. Ayo kamu segera kenalin calonmu ke mama&papa, kalo dah sreg, mama&papa dah siap kok mbak. Siapapun pilihanmu, kalau kamu rasa baik ya mantapkan. Gih buruan, nduk…”

“Ini anak saya yang nomer dua, mbakyu. Ini dagangan saya, mbakyu. Kerjanya ok, udah S2 tapi belum juga married. Ada calon untuk anak saya, mbakyu? Anak panjenengan atau keponakan mungkin?”

“Makanya bu,..kamu tinggalin tuh Tarot-Tarot-anmu. Gak ada gunanya kamu bantu-bantu orang banyak klo akhirnya kamu malah jauh jodoh. Dengerin omonganku deh, bu”

“Hai Sit! Kok status di facebooknya masih single? Mpe kapan, non?”

“Boleh tanya sesuatu nggak, mbak? Mbak ini cantik, pinter, ramah dan menarik,..kok belum juga married? Kenapa?”

“Live on Birthday Beat HRFM Surabaya: Ini sudah ada Shita Tarot Counsellor yang bisa kamu tanya-tanya tentang hidupmu. Shita,..hari ini yang ultah brondong lho, masih 23 th. Kamu pasti suka,…Ya kan tante?”

“Shita? Masih single juga dia? Dan 30an lebih kan umurnya? Kesian,..nasibnya memang gak oke untuk urusan cinta.”

“Shita, gimana akhirnya? Married juga ma si mr X bu?”

“Shita,..sekarang kamu jalan ma siapa? Trus kapan rencananya bu? Tunggu apalagi? Semua dah mapan kan? Ayo bu buruan,..aku dah mau dua kali lhoh,..”

“Masih sibuk main-main, mbak? Gak capek apa? C’mmon,..udah gak waktunya kamu begajulan kayak gitu. Waktunya serius untuk married lho mbak,..”

“Shita ini usianya berapa ya? Jarak berapa tahun ya dengan putra tante?”

“bla,..bla,..bla,..bla!! @#@#32#%%&%@!!*gykmbgerr&*..!! “

Klo mau ditulis,..sebenernya masih banyak lagi siy,..

Mungkin bisa sampai 2-3 lembar sendiri,..hahaha! Dari yang paling soft sampai yang paling bikin telinga panas plus mendidihkan hati hingga tak jarang bikin semangat hidup drop. Mumpung gi dalam “mode on” curhat,…mungkin tulisan ini bisa jadi jawaban dari berbagai pertanyaan yang ditanyakan oleh orang-orang sekitarku tentang kondisiku yang tetap lajang meski usiaku dah menginjak 32 th,..segera

Bagi beberapa perempuan hebat yang aku kenal, hidup melajang adalah suatu pilihan yang permanen hingga menikah tak lagi ada dalam daftar mereka,..sementara yang lainnya menganggap hidup melajang adalah keterpaksaan akibat keadaan.

Aku? Aku lebih suka mengatakan bahwa hidup melajang adalah suatu pilihan sementara. Sampai detik ini, aku belum beruntung mendapatkan pria yang pas untuk diajak ke taraf yang serius, yaitu menikah. Belum beruntung mendapatkan seorang calon suami yang “click” dengan keadaanku, click timing-nya, click keluarganya dll

Dibilang pilih-pilih rasanya siy wajar saja,..Beli buah di supermaket aja juga mesti dipilih to? Apalagi milih bojo? Heuheuheu,..Jelaseee,..!

Aku lebih memilih masalah hati, bukan karena pertimbangan materi, atau gengsi,..yang penting nyambung alias click, punya passsion yang sama sehingga kami akan tumbuh berkembang bersama dan yang terpenting adalah memiliki hubungan yang didasari komunikasi yang terbuka dan intens!

Value yang aku hargai banget,..lebih dari materi dan status sosial,..

Materi? Bukan berarti ndak butuh,..(hareee gini!) tapi aku yakin, materi bisa dicari barengan, toh aku juga bekerja hingga kami bisa berperan secara team work. Tanggung jawab finansial bukan hanya padanya, akupun punya tanggung jawab yang sama untuk masa depan keluarga kecil kami (ngimpi nak! (^_^))

Status sosial? Siapa siy yang ndak kepingin punya bojo yang membanggakan seperti orang-orang itu. Dokter kek,…Anak pejabat mungkin? Artis? Politisi? Direktur di perusahaan nomer 1 di Indonesia (klo perlu kaliber dunia malah)

Rasanya ini adalah harapan sejuta umat di dunia, bo…Siapa siy yang ndak? Anda sendiri juga kan? Hohohoho,..c’mmon get real!

Well,…justru karena aku mencoba untuk lebih realistis maka aku sekali lagi tidak menjadikan ini standart utama dalam menentukan calon suami yang pas untukku nanti. Tapi kalau Allah memberikannya sebagai bonus,..ya Alhamdulillah,..

Tentang keputusan untuk menikah, juga bukan barang baru untukku. Beberapa kali aku nyarisssss,…untuk menikah.

Udah pacaran 3 tahun, fight abis-abisan untuk bisa nikah,..eh batal karena dia-nya kecantol pager di jalan,..haha!

Udah pertemuan keluarga,…batal pula karena mantan pacarnya ternyata lebih menjanjikan ketimbang diriku

Udah berusaha untuk menerima dia apa adanya meskipun ada yang sedikit timpang disana sini,……eh batal pula hanya gara-gara berita tentang ke-lajangan-ku terpampang sukses di harian terkemuka di Jawa Timur pas bulan Mei lalu hingga bikin maminya shock berat karena ternyata oh ternyata,… (^_^)

Yang terakhir,…aku sempet berusaha semampuku untuk open mind (karena pertimbangan persetujuan orang tua) meskipun bukan typeku dan gak nyambung,..eh gak bisa juga karena ternyata dia tidak cukup menggilaiku (trus ngapain aku maksain diri juga?! Hahaha! No thx deh,..)

Apes? Hmmm,..gak juga,..belum beruntung mungkin,..Hahaha! (enaknya menertawakan diriku sendiri,…)

Jadi folks,..aku memang belum beruntung untuk bisa menikah, tapi bukan berarti aku tak ingin lagi menikah,..atau bahkan yang terburuk,..buru-buru untuk menikah bikin asal tubruk saben ada pria mendekat,..hahaha!

NO NO NO! Sama sekali tidak…

Anda salah sangka jika mengira aku melakukan hal itu,..

Aku akan melepas masa lajangku jika aku YAKIN padanya dan tentunya dia juga yakin padaku. Kami saling meyakini bahwa kami akan jadi team yang hebat untuk rumah tangga kami.

Aku akan menikah jika memang kami yakin pernikahan adalah langkah kami selanjutnya,..

Sedikit tips yang aku dapat dari beberapa sumber,…konon jangan pernah kita melepas masa lajang hanya karena alasan:

  1. UANG, ini alasan yang buruk karena pernikahan bukanlah lembaga transaksional berbasis bisnis
  2. ANAK, setiap perempuan pasti ingin punya anak tapi jika menikah hanya karena semata-mata ingin punya anak akan berbahaya. Tidak sadarkah jika memiliki anak berarti juga haus mengasuh, membimbingnya bersama pasangan. Lalu bagaimana jika ternyata dia bukan pasangan yang pas untuk itu?
  3. TARGET, semuanya pasti punya target termasuk menikah. Nah,…jangan pernah memaksakan menikah hanya gara-gara karena harus menikah sebelum usia 33 tahun. Masa maksain diri dinikahi seseorang yang bahkan tidak nyambung dengan kita? Penginnya pernikahan sekali seumur hidup kan?
  4. TEKANAN SOSIAL, bukan rahasia umum jika pertanyaan yang sering ditanyakan oleh orang sekitar ketika kita berusia diatas 30 tahun adalah tentang kapan & dengan siapa kita akan menikah. Menikahlah karena dirimu sendiri,..bukan karena ibumu,..bapakmu atau bahkan hanya karena semua sahabatmu sudah menikah dan memiliki anak.

Ngeles? Atau dianggap alasan-alasan itu adalah pembenaran dari kenyataan kenapa hingga kini aku masih juga melajang? Alasan-alasan halus dari underlined stigma = TIDAK LAKU? (oooouch!!)

Hmmm,..orang boleh saja ber-opini, setidaknya ada satu hal yang aku tahu pasti, yaitu hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan kita.  Kita hidup untuk menghadapi kenyataan kehidupan yang tentunya tidak selalu menyenangkan untuk dijalani. Dan tahukah anda bahwa, Dunia tidak mengabdikan dirinya untuk membuat kita bahagia?” Kalau kita memahami ini, maka kita akan mulai menerima kesulitan dalam hidup sebagai tantangan dan ujian-ujian untuk membentuk karakter yang terbaik dari kita. Pada akhirnya kita pun sadar bahwa semua memiliki harga yang harus dibayar. Semuanya datang sebagai hasil dari waktu, usaha, pengorbanan, dan penderitaan. Karena kehidupan memang sulit. Rasa sakit memang tak ter-elakkan tapi penderitaan itu adalah suatu pilihan.

“Shits happens ! (sometimes or always?)” (^_^)

Kesuksesan seseorang dalam menghadapi hidup sebenarnya tergantung pada seberapa baik kita bisa mengatasi kesulitan, apakah kita akan melarikan diri atau menghadapinya, apakah kita akan menciut karenanya atau berkembang karenanya, apakah kita akan menyerah atau ingin memperoleh kemenangan darinya?

Masa mau nyerah hanya gara-gara pasangan memilih meninggalkan kita karena takut kalo kita akan menuntut pernikahan padanya? Gak banget kan?

Dan aku memilih untuk sementara melajang sambil berharap yang terbaik terjadi (yaitu menikah dengan pria yang terbaik yang dikirimkan Allah untukku) namun aku tetap menikmati hidupku dengan hati yang ikhlas dan pikiran yang open mind.

Tetap bergaul seluas-luasnya tanpa membeda-bedakan.

Melibatkan diri di berbagai organisasi yang bermanfaat.

Mencoba berbagai hal baru yang bisa meng-optimalkan pribadi seorang Shita.

Mauku,..aku tidak ingin perempuan lajang atau kasarnya perawan tua (begitu orang awam menyebutnya) selalu dianggap sebagai orang yang selalu memiliki stigma negatif sebagai sosok yang sengit, galak, jutek, nyinyir dll.

We’re single, happy, enjoying our life and still useful for others,..

And now we’re not stepping on others’ feet, rite?

So why everybody always think that we’re bitches or even the sinners?

Hahaha! Memang paling gampang menghakimi orang,..

Parahnya yang mencemooh adalah justru orang-orang yang sudah terlebih dahulu menikah yang notabene lebih beruntung dibanding kami,..(atau jangan-jangan saat ini mereka terjebak pernikahan yang tidak lagi mereka inginkan sehingga mereka mendambakan kehidupan lajang? Maaf,…heuheuheu)

Lalu?

Biar saja jika orang-orang tetap mencibir setiap tahu hingga kini, aku masih juga “betah” melajang (siapa bilang betah, hayo! Menerima dan meng-ikhlaskan siy iya,..haha!)

Aku juga akan ikhlas kalo ada pria yang takut-takut deketan ma aku karena langsung mikir aku bakal segera minta dinikahi (jangan GR deee! Gak segitunya jg tuh)

Aku juga akan berbesar hati jika ada “calon ibu mertua” yang mempertanyakan kenapa hingga sekarang belum juga menikah dan berusaha memberikan alasan yang terbaik kenapa aku setuju dinikahi putra mereka,..(nyerah deh klo dah urusan yang beginian,..A mom will do her best for her son, rite? I believe I’ll do the same to my beloved boys)

Aku gak takut,…selama niatanku baik,..

Yang penting aku gak nyolong,..Kenapa ribut?!

Kan aku gak ngerebut atau selingkuh ma pacar atau suami mereka,..Kenapa heboh bikin gosip?!

Ngerugiin mereka juga gak,..

Heuheu,..(kok yakin bu? Siapa tahu mereka takut ma kamu yg masih juga melajang? Heuheuheu)

Yang penting aku tetep rendah hati & ndak over acting dalam menanggapi ketidakberuntunganku untuk yang satu itu. Aku yakin suatu saat perbendaharaan kata-kata celaan mereka juga akan habis pada waktunya,..yaitu pada saat mereka menerima undangan pernikahan dariku,..

Yang terdengar pasti, “Shita married? Akhirnya,..”

Hahaha!! Amien,..segera!

Hmmmmm,..susahnya jadi lajang,..eits diralat,..

“Akan kunikmati saja dulu masa lajang-kuw hingga saatnya tiba!”

Ditulis sebagai jawaban atas banyak pertanyaan yang muncul beberapa tahun terakhir,..

| Surabaya | Jemursari | November, 3 2008 | 04.00 am | releasing the pain while waiting the best arriving soon,… |
 

 

ENLIGHTENMENT : Berani Kotor Itu [Kadang Bisa Berarti ] Baik

October 20th, 2008 by s-dewi77

Jargon iklan salah satu iklan deterjen yang kerap terdengar ini lama-lama menggelitik juga,..

Karena di dalamnya tersirat nilai hidup yang tinggiiiiii sekali,..

Pasti bingung kan?

Kok berkotor-kotor ria bisa dianggap baik?

Heuheuheu,..

Jangan bingung deeh,…

Ingat kata Rasulullah? Bahwa sesungguhnya semua amal perbuatan dilihat dari niatnya. Percuma kalo ngoyo-ngoyo berbuat baik di depan banyak orang hanya karena pengin nampang atau sekedar karena pengin jaim alias jaga image (hareeeee gini?!) karena pada akhirnya ketahuan kok mana yang berasal dari niatan yang murni atau mana yang karena hal-hal yang lain tadi.

Lalu apa hubungannya dengan berani kotor itu baik?

Hmmm,…pertama kita harus definisikan dulu apa itu “kotor”

Lumpur? Tinja? (ups,..maaf) Apa?

Okeh,…kata kotor disini mengarah pada situasi dan seseorang yang berada di dalam kondisi yang tidak layak atau dibawah standart-diluar orang-orang kebanyakan.

Yang berarti bisa hina, miskin, susah, sedih, bahkan kontroversial.

“Ra umum” jika meminjam istilah ayah saya untuk hal-hal yang tidak biasa dan tidak pantas di mata khalayak umum.

Setiap orang yang hidup di seluruh pelosok dunia ini pastilah menginginkan kehidupan seperti pada umumnya bangsa manusia, yaitu happily ever after.

Hidup senang, kaya, bahagia dengan keluarga dan teman-teman dll

Pastinya yang happy-happy deh,..

Yang kaya kawin ma yang kaya (makin kaya aje deee)

Yang pinter seharusnya ma yang pinter dong biar imbang

Yang ganteng pantesnya cuman ma yang cantik-cantik juga (pantes aku gak pernah dapet yang ganteng-ganteng,..hahaha! Kepada para mantan:”Maafkan,..bukan berarti kalian nggak ganteng lhoh,..heuheu” )

Siapa juga yang mau hidup susah, miskin, atau hidup dengan kondisi yang kontroversi?

“Humility is the path to enlightenment”

Nah,..disini kata berani kotor itu baik bisa dimaknai menjadi sesuatu yang positif,..

Karena sebenarnya keadaan yang terlihat dan terasa kotor itu adalah sarana untuk mencapai tahap pencerahan dalam hidup dengan syarat kita berani dan ikhlas menjalaninya dengan niatan yang baik.

Sama seperti seorang ibu yang membiarkan anaknya berkotor-kotor ria karena belajar melukis dengan tangannya. Berani kotor untuk belajar sesuatu yang positif.

 

Contoh lain,…seorang sahabat berani mengambil langkah untuk menjadi istri kedua dengan segala konsekuensinya meskipun semua orang mencercanya, termasuk keluarga dan teman-temannya.

Bukan berarti menyetujui tindakannya yang berarti menyalahi kepercayaanku sendiri untuk SAY NO TO LAKOR (LA-ki OR-ang) tapi sebagai seorang sahabat aku hanya bisa mengingatkan resiko-resikonya dengan niatan baik padanya, sisanya pasti tergantung pada keyakinan dan keikhlasannya untuk menjalani hidup yang dipilihnya.

Karena keberanian dan keikhlasannya itu,..sekarang dia masih baik-baik saja dengan pernikahannya.

Hidup berdampingan dengan rukun dan harmonis dengan suami dan keluarga dari istri pertamanya.

Semua konflik dia hadapi dengan sabar dan pasrah,..

Alhasil,..keadaan kontroversi yang bisa disebut kekotoran di mata publik itu men-transformasinya menjadi sosok wanita yang lebih bijak, sabar penuh dengan kelembutan.

Bedaaaaaaaaaaaa banget dengan sosoknya yang dahulu yang keras dan jaim abis.

Good for her,..Alhamdulillah

I think she pass her test this time.

 

Mau contoh yang lain? Hmmm,…seseorang yang kukenal, berani menjalani sebuah perselingkuhan singkat yang menggelegakkan seluruh gairah hidupnya setelah dia mengalami perselingkuhan suaminya dengan puluhan wanita dalam kurun dua puluh tahun lebih perkawinannya.

Salah memang,…dilihat dari sudut manapun tetap sulit untuk dibenarkan.

Namun,..percayakah kamu jika ternyata pasca perselingkuhan itu, pernikahan mereka jauh lebih “happening” ketimbang sebelumnya?

Posisinya tak lagi inferior dibanding dominasi sang suami yang jumawa. Sang istri yang dulu tak lebih dari seorang konco wingking yang lemah lembut ternyata juga punya gairah yang meletup-letup. Sang suami kena batunya, meskipun kejadian yang terjadi bukan dirancang untuk membuat laki-laki itu jera.

Alhamdulillah-nya sang suami makin sayang padanya dan sang istri pun makin mengabdi pada sang suami karena pada dasarnya cinta dan hatinya hanya untuk sang suami. Dan mereka berbahagia hingga kini,..

 

 Dari semua cerita itu ada pelajaran yang bisa diambil yaitu jangan pernah takut untuk keberanian untuk mengambil resiko dari sesuatu yang mungkin dipandang oleh kaca mata umum tidak pantas atau kotor jika memang perlu. Lakukan semua itu dengan niat baik.

Semua hal mengandung pelajaran.

Siapa yang berani mengambil tantangan yang bermakna peningkatan kualitas hidup secara spiritualitas maka dia akan tercerahkan.

Yang penting harus tetep iqro

 

Namun bukan berarti semua yang umum,..wajar,…indah-indah di mata manusia lain adalah yang salah dan membenarkan yang lainnya.

Tidak ada yang absolut di dunia ini.

Semua penuh dengan kontradiksi.

Dualisme.

Seringkali pihak yang mencibir akan segera merasakan semua hal yang dulu dicibirnya,..

 

Bersikaplah fair dan bijak dalam hidup.

Empatif, adaptif tapi tetap berprinsip.

Lentur namun keras seperti bambu tapi tidak mudah patah sehingga bisa dibentuk sesuka hati sesuai dengan fungsi yang diinginkan,…

 

Ditulis untuk mengumpulkan nyali dan niat baik supaya berani mengambil keputusan-keputusan kontroversi jika perlu (lagi?! Gak kapok?..)

| Surabaya | Jemursari | October, 17 2008 |

ENLIGHTENMENT : Coincidences

July 15th, 2008 by s-dewi77

"There’s no such a thing called coincidance in this world and everything is happening for its own reason. "

[Unknown ]

Tidak ada yang tahu darimana quote itu berasal, tapi aku sangat mempercayainya. Konsep untuk mempercayai bahwa kebetulan bukanlah kebetulan namun merupakan kesempatan untuk belajar dari hidup sekaligus kesempatan untuk membaca pesan yang tersirat, pastilah terkesan absurd dan irasional. Tapi jika saja kita mau menyisihkan waktu untuk "membaca" dan merenungkan semuanya, kita akan menemukan garis merah yang menjembatani satu kejadian dengan kejadian yang lain. Serangkaian kejadian yang disebut kebetulan yang bermakna bisa terjadi kapanpun. Sangking pas nya, pada kondisi tertentu, kita bisa merasakan bahwa semua kejadian yang kebetulan itu adalah sebuah skenario yang mendorong kita ke arah hidup yang baru yang penuh inspirasi. Pernahkah Anda secara tidak sengaja, merasa ingin melewati jalan yang jarang Anda lalui. Lalu saat Anda melewatinya, disanalah Anda bertemu dengan seseorang teman lama yang selama ini Anda cari-cari selama puluhan tahun. Atau pernahkah Anda mendapatkan solusi penyelesaian dari seluruh masalah yang menghambat hidup Anda selama 3 bulan terakhir justru dari orang asing yang Anda temui di mall? Atau pernahkah Anda sedang memikirkan seseorang lalu ketika Anda berpikir untuk menghubungi, tiba-tiba Anda mendapat kabar darinya via sms?

"Synchronicity is an acausal principle in the universe, a law that operated to move human beings toward greater growth in conciousness." [Carl Jung]

Synchronicity atau Sinkronitas,… adalah sebutan yang diberikan Carl Jung atas hukum alam yang ditunjukkan melalui serangkaian kebetulan yang memiliki pesan tersirat bagi yang mengalaminya, bertujuan mendorong manusia untuk memperoleh kesadaran jiwa yang lebih tinggi.

Bagiku,…sinkronitas adalah sebuah persepsi atau pengalaman unik yang menunjukkan hubungan komunikasi antara kita manusia dengan Tuhan. Sehingga jika tiba saatnya aku mengalami rangkaian sinkronitas, seringkali aku bertanya padaNya, " Ya Allah pesan apa yang ingin Engkau sampaikan padaku? Ya Allah, hendak Engkau jadikan apa diriku? Apa yang harus aku lakukan atas pesan-pesanMu?"

agiku, semua hal yang terjadi padaku adalah bagian dari grand master plan yang luar biasa milik Allah. Setiap pertemuan dan perpisahan pasti punya makna, setiap orang yang ada di dalam perjalanan hidup seseorang pasti memiliki pesan dan kontribusi khusus bagi kehidupan masing-masing. Semuanya terangkai dengan sangat indah sesuai dengan hukum alam semesta milikNya.

Sinkronitas terekam dalam beberapa kejadian penting yang penuh makna seperti pesan-pesan tersirat dalam mimpi, saat kita memikirkan kawan atau kerabat lama dan kemudian kita bertemu atau mendengar kabar darinya. Bentuk lain dari sinkronitas tergambar pada pertemuan-pertemuan yang tidak disengaja yang melibatkan teman, kenalan atau bahkan orang asing. Mendapatkan, melihat ataupun mendengar informasi tentang sesuatu tepat pada saat yang paling kita butuhkan juga merupakan bentuk lain dari sinkronitas.

Lewat mimpi, seringkali aku mengetahui kejadian jauh sebelum kejadian itu menimpaku. Pesan yang tersirat kadang tergambar dengan vulgar sesuai dengan mimpiku, kadang hanya berupa perlambang, simbol, suara, tulisan dan sosok orang-orang yang kukenal yang dikemas dalam mimpi yang aneh dan sulit dipahami. Terkadang sebuah mimpi bisa kuingat hingga bertahun-tahun tapi terkadang aku lupa sebelum aku bisa mengingatnya sampai suatu saat secara misterius aku mengalami dejavu di dunia nyata.

Aneh memang tapi aku mempercayai bahwa kunci untuk mengetahui sinkronitas dari mimpi adalah dengan melihat pesan yang tersirat dari mimpi dengan mengkonsentrasikan pada gambaran besar dari mimpi yang kita alami, yaitu pada arti yang tersirat dari alur cerita dan karakter-karakter yang terlibat di mimpi kita. Darinya kita bisa menemukan pesan-pesan yang mengarah pada situasi yang kita hadapi dalam hidup kita saat itu. Membandingkan antara alur cerita yang terjadi di mimpi kita dengan situasi hidup kita di dunia nyata. Karakter-karakter orang yang kita temui dalam mimpi seringkali merujuk pada orang-orang yang kita temui di dunia nyata. Mungkin saja mimpi kita menunjukkan sesuatu tentang siapa mereka, sisi nyata tentang kebaikan atau keburukan mereka.

Jika mimpi kita terasa terlalu absurd, bisa jadi itu adalah pesan tentang kejadian yang akan terjadi pada kita di masa mendatang. Who knows?

Cobalah ingat-ingat kejadian dimana tiba-tiba Anda memikirkan seseorang. Pikiran tentang dia seolah sering dan pikiran tentang dia selalu memenuhi benak Anda. Ketika Anda menghindar lalu anda secara tidak sengaja teringat lagi dengannya karena membaca namanya di koran atau mendengar namanya disebut orang sekitar anda. Jika hal ini yang terjadi padaku, aku akan berusaha mencari tahu tentangnya atau langsung menghubunginya karena biasanya ada pesan tersirat yang harus aku "dapatkan" darinya.

Pertemuan yang kebetulan adalah bentukan lain dari sinkronitas. Deepak Chopra menjadi seorang tokoh pengobatan dan konsultan spiritual ternama dunia setelah pertemuan yang kebetulan dengan kawan lama yang menunjukkan padanya tentang pengobatan ala Ayurvedic.

Mendapatkan informasi penting tepat pada saat yang paling dibutuhkan jelas merupakan bukti bahwa kebetulan merupakan cara Tuhan berkomunikasi dengan kita, cara Tuhan menolong kita, cara Tuhan memberikan bimbinganNya pada kita. Pesan itu bisa berbentuk apa saja, bisa berupa tulisan di lembar majalah yang tidak sengaja terbuka. Lagu yang diputar di radio favorit kita yang tidak sengaja terdengar dan mengingatkan kita pada seseorang. Pertemuan dengan kawan lama maupun orang asing. Apa saja,..bahkan seringkali lewat kejadian-kejadian yang terlihat konyol,..

Untuk bisa berkomunikasi denganNya adalah dengan belajar untuk mengambil manfaat dari serangkaian kebetulan yang terjadi dalam hidup kita dan pergunakan waktu dengan sungguh-sungguh untuk menjelajahi apa makna di balik kejadian. Tak heran jika Allah menurunkan QS. Al Alaq sebagai surat pertamanya kepada Rasulullah sebagai bekal manusia dalam menunaikan tugasnya sebagai kafilah di muka bumi.

Dengan IQRO (membaca dan mengkaji) pesan-pesan yang tersirat dalam semua kejadian yang kita alami, baik yang kebetulan atau tidak kita akan mencapai kesadaran yang lebih tinggi tentang mengapa dan apa tugas kita selama kita "numpang minum" di bumi

"Bacalah !!"

Tuhanmu yang Maha Pemurah!

Yang mengajar dengan kalam."

Q.S Al’ Alaq (Segumpal Darah) 96: 3-4

This article is dedicated to people who believe the reason why we’re here on earth is to build a better spiritual awareness for a better world. The world of love because the purest essence of soul is L.O.V.E

Dear you,..I’ve forgiven you & your family for all the pains that u’ve brought into my life for these past 4 months. You’ve already helped me transform become the new Shita Dewi. I hope Allah gives you the way back to your purest heart desire. Amien.

| Jakarta| Lebak Bulus | July, 04 2008 |

Karena Dia Manusia Biasa

April 16th, 2008 by s-dewi77

Mengapa??

Karena Dia Manusia Biasa.

Setiap kali ada teman yang mau menikah, saya selalu mengajukan pertanyaan yang sama. Kenapa kamu memilih dia sebagai suamimu/istrimu? Jawabannya sangat beragam. Dari mulai jawaban karena Allah hingga jawaban duniawi (cakep atau tajir :D manusiawi lah :P). Tapi ada satu jawaban yang sangat berkesan di hati saya. Hingga detik ini saya masih ingat setiap detail percakapannya.

Jawaban salah seorang teman yang baru saja menikah. Proses menuju pernikahannya sungguh ajaib. Mereka hanya berkenalan 2 bulan. Lalu memutuskan menikah. Persiapan pernikahan hanya dilakukan dalam waktu sebulan saja. Kalau dia seorang akhwat, saya tidak akan heran. Proses pernikahan seperti ini sudah lazim. Dia bukanlah akhwat, sama seperti saya. Satu hal yang pasti, dia tipe wanita yang sangat berhati-hati dalam memilih suami. Trauma dikhianati lelaki membuat dirinya sulit untuk membuka diri. Ketika dia memberitahu akan menikah, saya tidak menanggapi dengan serius. Mereka berdua baru kenal sebulan. Tapi saya berdoa, semoga ucapannya menjadi kenyataan. Saya tidak ingin melihatnya menangis lagi. Sebulan kemudian dia menemui saya. Dia menyebutkan tanggal pernikahannya. Serta memohon saya untuk cuti, agar b isa menemaninya selama proses pernikahan. Begitu banyak pertanyaan dikepala saya. Asli. Saya pengin tau, kenapa dia begitu mudahnya menerima lelaki itu. Ada apakah gerangan?

Tentu suatu hal yang istimewa. Hingga dia bisa memutuskan menikah secepat ini. Tapi sayang, saya sedang sibuk sekali waktu itu (sok sibuk sih aslinya). Saya tidak bisa membantunya mempersiapkan pernikahan. Beberapa kali dia telfon saya untuk meminta pendapat tentang beberapa hal. Beberapa kali saya telfon dia untuk menanyakan perkembangan persiapan pernikahannya. That’s all. Kita tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Saya menggambil cuti sejak H-2 pernikahannya. Selama cuti itu saya memutuskan untuk menginap dirumahnya. Jam 11 malam, H-1 kita baru bisa ngobrol -hanya- berdua. Hiruk pikuk persiapan akad nikah besok pagi, sungguh membelenggu kita. Padahal rencananya kita ingin ngobrol tentang banyak hal.

Akhirnya, bisa juga kita ngobrol berdua. Ada banyak hal yang ingin saya tanyakan. Dia juga ingin bercerita banyak pada saya. Beberapa kali Mamanya mengetok pintu, meminta kita tidur. "Aku gak bisa tidur." Dia memandang saya dengan wajah memelas. Saya paham kondisinya saat ini. "Lampunya dimatiin aja, biar dikira kita dah tidur." "Iya.. ya." Dia mematikan lampu neon kamar dan menggantinya dengan lampu kamar yang temaram. Kita melanjutkan ngobrol sambil berbisik-bisik. Suatu hal yang sudah lama sekali tidak kita lakukan.

Kita berbicara banyak hal, tentang masa lalu dan impian-impian kita. Wajah sumringahnya terlihat jelas dalam keremangan kamar. Memunculkan aura cinta yang menerangi kamar saat itu. Hingga akhirnya terlontar juga sebuah pertanyaan yang selama ini saya pendam. "Kenapa kamu memilih dia?" Dia tersenyum simpul lalu bangkit dari tidurnya sambil meraih HP dibawah bantalku. Berlahan dia membuka laci meja riasnya. Dengan bantuan nyala LCD HP dia mengais lembaran kertas didalamnya. Perlahan dia menutup laci kembali lalu menyerahkan selembar amplop pada saya. Saya menerima HP dari tangannya. Amplop putih panjang dengan kop surat perusahaan tempat calon suaminya bekerja. Apaan sih. Saya memandangnya tak mengerti. Eeh, dianya malah ngikik geli. "Buka aja." Sebuah kertas saya tarik keluar. Kertas polos ukuran A4, saya menebak warnanya pasti putih hehehe. Saya membaca satu kalimat diatas dideretan paling atas. "Busyet dah nih orang." Saya menggeleng-gelengkan kepala sambil menahan senyum. Sementara dia cuma ngikik melihat ekspresi saya. Saya memulai membacanya. Dan sampai saat inipun saya masih hapal dengan kata-katanya. Begini isi surat itu.

Kepada YTH

Calon istri saya, calon ibu anak-anak saya, calon anak Ibu saya dan calon kakak buat adik-adik saya

Di tempat

Assalamu’alaikum Wr Wb

Mohon maaf kalau anda tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah surat ini hingga akhir. Baru kemudian silahkan dibuang atau dibakar, tapi saya mohon, bacalah dulu sampai selesai. Saya, yang bernama …… menginginkan anda ……untuk menjadi istri saya. Saya bukan siapa-siapa.

Saya hanya manusia biasa. Saat ini saya punya pekerjaan. Tapi saya tidak tahu apakah nanti saya akan tetap punya pekerjaan. Tapi yang pasti saya akan berusaha punya penghasilan untuk mencukupi kebutuhan istri dan anak-anakku kelak.

Saya memang masih kontrak rumah. Dan saya tidak tahu apakah nanti akan ngontrak selamannya. Yang pasti, saya akan selalu berusaha agar istri dan anak-anak saya tidak kepanasan dan tidak kehujanan.

Saya hanyalah manusia biasa, yang punya banyak kelemahan dan beberapa kelebihan. Saya menginginkan anda untuk mendampingi saya. Untuk menutupi kelemahan saya dan mengendalikan kelebihan saya.

Saya hanya manusia biasa. Cinta saya juga biasa saja. Oleh karena itu. Saya menginginkan anda mau membantu saya memupuk dan merawat cinta ini, agar menjadi luar biasa. Saya tidak tahu apakah kita nanti dapat bersama-sama sampai mati. Karena saya tidak tahu suratan jodoh saya. Yang pasti saya akan berusaha sekuat tenaga menjadi suami dan ayah yang baik.

Kenapa saya memilih anda? Sampai saat ini saya tidak tahu kenapa saya memilih anda. Saya sudah sholat istiqaroh berkali-kali, dan saya semakin mantap memilih anda. Yang saya tahu, Saya memilih anda karena Allah. Dan yang pasti, saya menikah untuk menyempurnakan agama saya, juga sunnah Rasulullah. Saya tidak berani menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha sekuat mungkin menjadi lebih baik dari saat ini. Saya mohon sholat istiqaroh dulu sebelum memberi jawaban pada saya. Saya kasih waktu minimal 1 minggu, maksimal 1 bulan. Semoga Allah ridho dengan jalan yang kita tempuh ini.

Amin

Wassalamu’alaikum Wr Wb

Saya memandang surat itu lama. Berkali-kali saya membacanya. Baru kali ini saya membaca surat ‘lamaran’ yang begitu indah. Sederhana, jujur dan realistis. Tanpa janji-janji gombal dan kata yang berbunga-bunga. Surat cinta minimalis, saya menyebutnya :D. Saya menatap sahabat di samping saya. Dia menatap saya dengan senyum tertahan. "Kenapa kamu memilih dia." "Karena dia manusia biasa." Dia menjawab mantap. "Dia sadar bahwa dia manusia biasa. Dia masih punya Allah yang mengatur hidupnya. Yang aku tahu dia akan selalu berusaha tapi dia tidak menjanjikan apa-apa. Soalnya dia tidak tahu, apa yang akan terjadi pada kita dikemudian hari. Entah kenapa, Itu justru memberikan kenyamanan tersendiri buat aku." "Maksudnya?" "Dunia ini fana. Apa yang kita punya hari ini belum tentu besok masih ada. Iya kan ? Paling gak. Aku tau bahwa dia gak bakal frustasi kalau suatu saat nanti kita jadi gembel. Hahaha!!" "Ssttt." Saya membekap mulutnya. Kuatir ada yang tau kalau kita belum tidur.

Terdiam kita memasang telinga. Sunyi. Suara jengkering terdengar nyaring diluar tembok. Kita saling berpandangan lalu cekikikan sambil menutup mulut masing-masing. "Udah tidur. Besok kamu kucel, ntar aku yang dimarahin Mama." Kita kembali rebahan.

Tapi mata ini tidak bisa terpejam. Percakapan kita tadi masih terngiang terus ditelinga saya. "Gik…" "Tidur. Dah malam." Saya menjawab tanpa menoleh padanya. Saya ingin dia tidur, agar dia terlihat cantik besok pagi. Kantuk saya hilang sudah, kayaknya gak bakalan tidur semaleman nih.

Satu lagi pelajaran pernikahan saya peroleh hari itu.

Ketika manusia sadar dengan kemanusiannya. Sadar bahwa ada hal lain yang mengatur segala kehidupannya. Begitupun dengan sebuah pernikahan. Suratan jodoh sudah tergores sejak ruh ditiupkan dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana dan berapa lama pernikahnnya kelak. Lalu menjadikan proses menuju pernikahan bukanlah sebagai beban tapi sebuah ‘proses usaha’.

Betapa indah bila proses menuju pernikahan mengabaikan harta, tahta dan ‘nama’. Embel-embel predikat diri yang selama ini melekat ditanggalkan. Ketika segala yang ‘melekat’ pada diri bukanlah dijadikan pertimbangan yang utama.

Pernikahan hanya dilandasi karena Allah semata. Diniatkan untuk ibadah. Menyerahkan secara total pada Allah yang membuat skenarionya. Maka semua menjadi indah.

Hanya Allah yang mampu menggerakkan hati setiap umat-NYA.

Hanya Allah yang mampu memudahkan segala urusan.

Hanya Allah yang mampu menyegerakan sebuah pernikahan.

Kita hanya bisa memohon keridhoan Allah. Meminta-NYA mengucurkan barokah dalam sebuah pernikahan.

Hanya Allah jua yang akan menjaga ketenangan dan kemantapan untuk menikah.

Lalu, bagaimana dengan cinta? Ibu saya pernah bilang, Cinta itu proses. Proses dari ada, menjadi hadir, lalu tumbuh, kemudian merawatnya. Agar cinta itu bisa bersemi dengan indah menaungi dua insan dalam pernikahan yang suci. Witing tresno jalaran garwo (sigaraning nyowo), kalau diterjemahkan secara bebas. Cinta tumbuh karena suami/istri (belahan jiwa).

Cinta paling halal dan suci. Cinta dua manusia biasa, yang berusaha menggabungkannya agar menjadi cinta yang luar biasa. Amin.

Sumber : Karena Dia Manusia Biasa | Jurnal Muslimah|Saturday, 08 December 2007

Alhamdulillah,…I think I’ve found him,..Insya Allah,…Amien

FIN | THE END | SELESAI | CLOSED ENDING

December 22nd, 2007 by s-dewi77

Ada awal,..ada akhir                                                                   

Ada pernikahan,..ada pula perceraian                                       

Ada kelahiran,…ada pula kematian,..

Sebuah aturan yang telah digariskan olehNya                              

Suatu hukum alam semesta,..

Lalu apa hubungan hukum alam dengan akhir dari sebuah cerita? Hmmm,…akhir-akhir ini banyak hal yang terjadi pada hidupku dan orang-orang tersayang yang ada disekelilingku. Baik suatu awal dari cerita yang manis atau pahit, maupun akhir dari suatu cerita. 

Terlihat sesuatu yang wajar meski jika saja kita mau menyisihkan waktu untuk membaca makna yang terkandung dibalik semua cerita (iqro), kita akan tahu bahwa ada grand masterplan yang luar biasa indah dari Allah yang sedang kita jalani.

Biasanya orang lebih mementingkan awal dari suatu cerita dibandingkan bagaimana mengakhirinya ketika berada di dalam suatu situasi yang mengharuskan cerita itu harus menemui akhirnya.         

Lihat saja bagaimana calon pengantin menyibukkan mereka saat mempersiapkan acara pernikahan mulai dari memilih model gaun pengantin, bentuk kartu undangan, tempat resepsi, tujuan untuk berbulan madu dan masih banyak tetek bengek lainnya yang justru membuat persiapan hari pernikahan semakin seru.

Lalu bandingkan dengan apa yang terjadi pada saat masalah menimpa dan mereka harus dihadapkan dengan perpisahan?Hehehe,..ditanggung berbeda 180 derajat. Boro2 berebut untuk menyelesaikan masalah,…yang ada malah saling menunggu pihak yang lainnya untuk mengambil inisiatif.            

Alasannya klasik,…masalah ego alias pride.                              

Eeee capeee deee,.. Hehehehe,..                                          

Kalau perlu pihak lawan yang menggugat cerai supaya berkurang biaya,..maklum ada kecenderungan biaya untuk bercerai juga tak kalah mahalnya dengan biaya pesta pernikahan,..

Dari contoh yang sederhana terlihat betapa orang lebih mementingkan suatu awal dibandingkan menjaganya,…jarang ada yang peduli untuk membuat suatu akhir yang damai,..

Cara yang paling mudah untuk menyelesaikan masalah untuk kebanyakan orang adalah membiarkan masalah itu tetap bercokol lalu pergi meninggalkannya begitu saja sambil berharap alam dan waktu yang akan menyelesaikannya untuk kita. Berpikir bahwa alam semesta ini seperti recycle bin raksasa yang akan mendaur ulang masalah-masalah kita meskipun kita tidak melakukan apapun.

Mungkin tampaknya itulah yang terjadi. Ingat quote ini,” Time will heall all wounds,…and time will tell the meaning of all the stories” ? Memang waktu dan alam semesta yang akan memberikan kapan dan aturan tentang bagaimana menyelesaikan masalah, namun manusia jualah yang memiliki kewajiban untuk berjuang. Mereka sering kali lupa bahwa suatu penutup dari cerita apapun arti cerita itu untuk kita, punya peran yang tak kalah pentingnya apabila dibandingkan dengan awalnya,..

Sebuah cerita dalam hidup kita biasanya akan melibatkan seseorang yang hadir dalam hidup kita. Apalagi di dunia ini tidak ada kejadian yang disebut kebetulan. Ada yang hadir karena suatu alasan tertentu, menemani kita untuk beberapa saat untuk mengatasi beberapa kesulitan kita, atau kadang memberikan kita kesulitan lalu berpisah, meninggal, atau pergi. Lalu ada pula yang hadir untuk beberapa saat lamanya, dengannya kita belajar tertawa, menangis, memberikan kita dukungan pada kita lalu merekapun pergi. Yang terakhir, ada juga orang-orang yang hadir untuk kita selama kita hidup, biasanya merekalah yang mengajarkan kepada kita tentang pentingnya cinta, yaitu orang tua kita, istri/suami kita, anak-anak kita atau para sahabat kita.

Siapapun yang hadir dalam hidup kita mereka datang dan pergi untuk alasan tertentu yang pasti memberikan kita pelajaran yang kita butuhkan, meski kadang kedatangan dan kepergian mereka terasa sangat pahit dan menyakitkan.

Siapapun dia, harus kita sambut dengan awal yang baik dan harus pula kita antar kepergiannya dengan akhir yang baik, terlepas kita menyukainya atau bahkan membencinya.                                 

Bukan demi kebaikannya,…tapi sebenar-benarnya, itu semua demi kebaikan kita sendiri. Karena kedatangannya membawa satu chapter pelajaran yang penting, yang harus kita pelajari jika kita ingin mencapai tingkat kehidupan yang lebih baik secara spiritual maupun secara emosional.                                                             

Membiarkannya pergi atau meninggalkannya dengan kemarahan dan dendam yang tak berkesudahan,.. ataupun kesedihan yang mendalam sama saja dengan membiarkan sebuah pelajaran tak terselesaikan,…yang tanpa disadari suatu saat pelajaran itu akan datang kembali, bisa melalui orang yang sama ataupun melalui orang-orang yang berbeda. Yang mungkin akan datang dengan membawa konsekuensi-konsekuensi yang lebih berat.

Lalu manakah yang sebaiknya kita pilih?                                    

Kalau aku, di penghujung tahun 2007 ini, aku akan memilih untuk menyelesaikan pelajaranku pada saatnya supaya aku dapat melanjutkan hidupku untuk menerima pelajaran-pelajaran yang akan segera datang dalam hidupku.                                                  

Aku akan memilih untuk menyambutnya semua konsekuensi dari pelajaran-pelajaran itu meskipun menyakitkan.                       

Karena aku tahu, Allah lah dibalik semua kejadian.                     

Dan siapapun mereka,…                                                            

Dan apapun yang mereka lakukan untukku,…                                

Semuanya hadir demi kebaikanku sendiri.                           

Membantuku untuk menjadi seorang Shita yang terbaik.

December, 23 2007 | 3 am in d morning                                                                                                

Dedicated to all of my dear family , friends & to YOU (I think u know who you’re). I’m still hoping on our beautiful story because the story was just begun, dear. So,..I’m here waiting for you until you’re ready,…

Nama-Ku

December 20th, 2007 by s-dewi77

What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet” | William Shakespeare |

Namaku “DIAN RISHITA DEWI” atau panggil saja “Shita Dewi” atau “Shita” Itu sapaanku yang paling dikenal 15 tahun terakhir,.. Sedangkan di rumah aku biasa dipanggil “Mbak Dian” atau “Cempluk” klo pas Papa-ku yang manggil.

Well,…seperti yang dibilang Shakespeare, “Apa is artinya nama?” Karena toh meskipun disebut dengan nama-nama yang berbeda, mawar tetap saja berbau wangi. Ya to? Kecuali mawar boongan yang bagus dilihat tapi jangan ditanya tentang baunya, karena bisa saja mawar boongannya tiba2 berbau CK One (ooops,..parfum siapa ya? hihihi,..Momo?) atau Prada bahkan Clinique Happy yang belakangan susah dicari,..hehehehe

Tapi nama tetaplah seharusnya punya arti,.. Karena mau tidak mau,..nama adalah doa. Doa yang dipanjatkan kedua orang tua kita mengenai harapan dan mimpi yang mereka inginkan terjadi pada kita. Bahkan tak jarang, nama juga mengandung misi-misi yang kita emban selama kita hidup. Makanya jangan heran kalo ada cerita anak yang musti ganti nama gara-gara namanya terlalu berat untuk dirinya sehingga sebabkan dia jadi langganan rumah sakit, sangking seringnya opname. Jangan heran juga kalo untuk sekedar mengganti nama saja musti ditahbiskan dengan tetek bengek acara slametan termasuk membuat bubur merah putih. Hehehe,..

Jadi,…masih mengganggap nama hanyalah sekedar rangkaian kata2 untuk membedakan kita dibandingkan individual lainnya? Hope not,.. Cause I do believe that name does refer to “doa” or our parent’s whishes

Nah,..sekarang gimana dengan nama Dian RiShita Dewi?

Kata bonyok,..nama Dian dipilih karena berarti api atau lampu dalam bahasa melayu. Seorang anak yang membawa penerangan buat lingkungan sekitarnya. Alias enlightenment aka pencerahan yang ternyata setelah dihitung2 pake numerologi pas banget ma tanggal lahirku yang berarti IX. THE HERMIT who brings the enlightenment and the lamp of knowledge into the world through her very own journey of life.

Wow!!! Pas banget,….!!! U’re really genious, dad!!!

Luv u more now,..

Terus,…nama Shita diambil dari nama idola bokap yang pas aku lahir gi beken banget. Itu,..Ibu Raesita Supit. Terlihat jelas kalo maksud beliau menamai diriku supaya aku bisa sehebat Bu Raesita Supit yang kini termasuk jajaran perempuan berpengaruh di negeri ini. Amin,…Semoga aku tidak mengecewakan beliau.

Kalo nama Dewi ditambahkan supaya menambah aura perempuan dalam diriku dan sebagai penegasan supaya jadi mahluk supranatural alias Dewi yang bernama Shita. Un-ordinary girl named Shita. Heuheuheu,…

Itu cerita tentang asal namaku,..lalu apa kata kamus tentang asal dan arti dari namaku?

Let’s take a glimpse bout it,..

DIAN| Gender : Feminine | Usage : Latin| Meaning : Its source is DIVIANA, a Latin name meaning "GODDESS." Though this name has fluctuated in use, it has been quietly present throughout the last century. This was one of the names of the ancient Roman moon goddess, equivalent to the Greek goddess Artemis. She was also goddess of the hunt and of chastity. Like most deities, she was called by several names, including Cynthia and Delia.

DEWI or DEVI| Gender : Feminine| Usage : Indian, Hindu Mythology | Meaning : Derived from Sanskrit DEVI meaning “GODDESS” Devi is the Hindu mother goddess who manifest herself as all other goddess

SHITA or SITA| Gender : Feminine| Usage : Indian, Hindu Mythology | Meaning : Means "furrow" in Sanskrit. Sita is the name of the Hindu GODDESS of the harvest. This is also the name of the wife of Rama in the Hindu epic the ‘Ramayana’.

Waduw,..waduw,.. Berasa gak klo namaku beraaaaaat banget. Bayangin ketiga2nya berarti GODDESS = DEWI

Walah,.. Well,…semoga aku bisa mengemban tugas sebagai seorang Goddess,..meskipun aku yakin kalo temen-temen bakal ngebaca ini sambil ketawa sampe sakit perut gara-gara mereka dah paham betul kelakuan asliku yang lebih mirip cheerleader yang sibuk kesana kemari dibandingkan seorang dewi yang anggun. Meski kadang bisa juga jadi “mama” yang tenang dan ngayomi. Heuheuheu,..

Akhirnya,..bagaimanapun nama memang mengandung berjuta arti dan harapan untuk penyandangnya. Termasuk namaku. Seorang dewi yang membawa pencerahan, kemakmuran dan kebahagiaan bagi lingkungan sekitarnya melalui sentuhannya, tindakannya, ucapan-ucapannya,… Karena pada akhirnya sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang memberikan manfaat. Amin,…

Surabaya, 21 Desember 2007

Winner : Setiap orang adalah seorang PEMENANG

August 26th, 2007 by s-dewi77

Sejak lahir, Kita sudah diciptakan sebagai seorang pemenang. Seorang pemenang dengan karunia yang paling sempurna dibandingkan mahluk ciptaan Tuhan yang lain yaitu akal, emosi dan hati nurani. Sayangnya Kita sering tidak sadar pada kelebihan yang Kita punyai ini.

Untuk menjadi seorang pemenang, tidak harus memenangkan suatu kompetisi atau lomba. Jika Kita berada di posisi kelima, kesepuluh atau kelima puluh sekalipun dalam sebuah lomba, janganlah hal tersebut membuat Kita merasa bahwa Kita bukanlah seorang pemenang. Menang di posisi pertama dalam sebuah lomba, di pekerjaan, di sekolah ataupun di masyarakat bukanlah segala-segalanya hingga Kita harus menghalalkan segala cara. Karena sesungguhnya pemenang sejati adalah seseorang yang melakukan sesuatu yang terbaik dari dirinya sendiri, untuk dirinya dan untuk orang-orang yang ada disekitarnya.

Menang adalah tentang sikap memberikan yang terbaik untuk dirinya dan orang lain. Sikap inilah yang membedakan seseorang menjadi pemenang ataupun pecundang.

    

Pemenang dan Pecundang

Pemenang selalu melihat jawaban pada setiap masalah
Pecundang selalu melihat masalah pada setiap jawaban
Pemenang selalu menjadi bagian dari suatu jawaban
Pecundang selalu menjadi bagian dari suatu masalah

Pemenang selalu mempunyai rencana-rencana

Pecundang selalu mempunyai alasan-alasan
Pemenang berkata, "Biarkan saya membantu Anda!"
Pecundang berkata, "Wah, itu bukan pekerjaan saya!"
Pemenang berkata, "Itu barangkali sulit, tapi itu masih mungkin bisa!"
Pecundang berkata, "Itu mungkin masih bisa, tapi itu sulit!"

Nah,…sudahkah Kita menjadi seorang pemenang sejati?

[published @ Pakuwon News : The Link, September Edition, by D.Rishita Dewi, Editor-in-chief]

Sebuah Renungan di Sabtu Pagi : Micekne Mata Melek

August 17th, 2007 by s-dewi77

Yang bukan orang Jawa pasti bingung ma judul “curhat”ku kali ini, tapi jangankan mereka, yang ngakunya orang Jawa sekalipun akan dibuat bertanya-tanya arti dari kata-kata itu.

Micekne = Membutakan 

Mata      = Mripat alias mata

Melek    = Melihat

Arti keseluruhannya kira-kira begini, “Membutakan mata yang jelas-jelas bisa melihat” atau bisa juga berarti begini,…”Menganggap buta mata orang yang jelas- jelas bisa melihat dengan baik.

Uniknya kata-kata ini diucapkan oleh eyang putri tercinta dengan pemaknaan yang sangat dalam, sesuatu yang membuatku ingat terus bahkan sampai detik ini. Kata-kata ini terlontar dari mulut eyang sebagai reaksi atas tindakan diluar norma oleh salah satu kerabatnya. Dan ternyata dampak dari kata-kata ini berakibat cukup fatal, yaitu believe or not, berhubungan atau tidak, anak pertama pasangan kerabatku ini terlahir BUTA. Astagfirullah al adziim,…

Ada dua hal yang bisa diambil sebagai pelajaran dari kisah di atas, yang pertama adalah keampuhan kata-kata dari orang yang teraniaya dan yang kedua adalah betapa tindakan diluar norma yang dilakukan kerabatku tadi berakibat sangat buruk untuk kehidupan mereka sendiri. Ibaratnya, “Siapa menabur angin,…dia akan menuai badai.”

Hmmm,…sekarang coba kita melihat apa yang terjadi disekeliling kita. Banyak kejadian yang menggambarkan tentang fenomena “micekno moto melek”. Sebut saja salah satu headline infotainment yang sempat jadi pergunjingan para ibu rumah tangga akhir-akhir ini, tentang salah satu aktor film baru di  Indonesia yang sempat menyangkal bahwa dia punya istri (karena saat ini dia sudah punya gandengan yang lebih muda dan ranum) padahal si istri jelas-jelas memiliki bukti syah yaitu buku nikah, foto-foto pernikahan dan anak dari pernikahan mereka. Eeee…ladalah! Apa gak kebablasan tuh?

Berarti sama saja dia anggap orang se-Indonesia Raya yang nonton infotaiment BUTA dong?

Hahahaha!!! Astagfirullah Ya Allah,…

Itu baru satu contoh. Di negeri ini begitu banyak hal serupa terjadi. Tidak hanya di kalangan artis, pejabat Negara dan sosok selibritis lainnya tapi juga di kalangan masyarakat awam.

Bener-bener memprihatinkan, karena bukan hanya membutakan “mata”, menulikan “telinga”dan panca indera yang lain tapi yang terjadi sebenarnya jauh lebih parah dari itu, yaitu MEMBUTAKAN HATI sehingga hati menjadi keras dan tak mampu merasa. Numb alias imun sehingga DOSA seolah menjadi HAL YANG BIASA.

"maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang BUTA, adalah HATI yang ada di dalam dada."

(QS 22: Al Hajj ayat 46)

Gak kerasa salah meski sudah korupsi uang negara hingga milyaran rupiah.

Gak kerasa juga sudah mengkhianati pasangan yang sudah pontang-panting mencintai pasangannya dengan apa adanya.

Gak kerasa juga sudah menghambur-hamburkan uang orang tuanya sendiri demi  gaya hidup orang lain sementara orang tua makin lemah dan sakit-sakitan. 

Astagfirullah Ya Allah,…

Kalau itu sudah jamak terjadi dan dianggap biasa, apa yang mau diharapkan untuk kelangsungan nasib negeri ini? Gak salah  kan kalau Allah terus menimpakan bencana pada tanah air kita ini? Trus gimana dong?

Coba tanyakan hatimu. Iqro : Bacalah dengan nama Tuhanmu.

“…maka Allah  mengilhamkan kepada jiwa itu (manusia) jalan kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”

(Asy Syam: 8-10)

Nah,…pilihannya ada di tanganmu, Kawan. Jalan manakah yang akan pilih? Karena sesungguhnya jika Allah sudah berkehendak membuka aib mu, maka tidak akan ada tempat yang aman bagimu di dunia ini. Begitu pula dengan kelangsungan rejekimu, keluargamu juga dengan jabatan, kecantikan, kesehatan dan kekayaanmu yang selama ini kamu bangga-banggakan.

Kalau sudah begitu,.. apa kamu masih juga akan membutakan mata dunia dari aibmu?

Menyangkal semua perbuatan burukmu yang cepat atau lambat pasti akan dibuka oleh Allah?

Kalau kamu masih juga belum sadar,..maka sesungguhnya balasan Allah sungguhlah cepat. Lebih cepat dibandingkan kedipan matamu,..

Jadi? Masih mau terus "micekne mata melek"?

75+25 sama dengan Eeeee cepee’ deeeee,….

(Astagfirullah,…)

DEMI MASA

August 6th, 2007 by s-dewi77

Apa yang kau lakukan saat kau berulang tahun? Bersenang-senang dan berpesta pora bersama keluarga dan teman-temanmu?Menghabiskan sehari dan semalam suntuk berada dalam aroma “candu” euphoria yang memabukkan, kala semua orang yang kau kenal menyapa dan saling berebut untuk memberimu selamat?

Atau kau justru ber-tafakur dalam diam? Merenungi setiap detik yang telah kau habiskan selama hidupmu? Meluangkan waktu untuk menghitung berapa banyak manfaat yang telah kau berikan pada orang-orang yang kau cintai selama kau hidupmu?

Apa yang kau lakukan, Kawan?

Waktu atau masa,…..Apa itu waktu? Masa?

Waktu adalah uang”,..itu salah satu penjelasan paling popular yang menggambarkan betapa berartinya waktu itu.

Waktu adalah pedang”,..hampir sama,..idiom ini menggambarkan betapa waktu memiliki ketajaman dan kebenaran bagi siapapun yang menyadarinya.

Waktu ibarat air yang mengalir di sungai,…kita tidak mungkin bisa menyentuh air yang sama pada waktu yang berbeda.Waktu akan mengalir terus. Seperti halnya air dalam sungai. Berlalu begitu aja meninggalkan kita,..

Banyak orang lupa akan betapa berharganya setiap detik dalam hidupnya. Menganggap waktu adalah sesuatu yang wajar. Lupa bahwa waktu adalah kenikmatan yang luar biasa dari Sang Pencipta. Padahal sungguh Allah Maha Besar atas karunianya atas ”waktu” yang dianugerahkan kepada kita.

Pentingnya nilai waktu terlihat dari beberapa ayat dalam Al Qur’an dan Sunnah. Lihat saja bagaimana Allah mengingatkan manusia dalam surat Ibrahim ayat 33-34:

Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya), dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadaNya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya.”

Peringatan Allah SWT juga tampak di dalam firmanNya, yaitu surat
Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.”


Dalam satu sunnah nabawiyah terlihat bagaimana Allah SWT juga mengukuhkan nilai waktu dan menetapkan adanya tanggung jawab manusia terhadap waktu di hari kiamat kelak. Dari empat pertanyaan pokok yang akan dihadapkan kepada setiap manusia di hari perhitungan kelak, dua pertanyaan diantaranya secara khusus akan berkenaan dengan waktu.

Tiada tergelincir kedua telapak kaki seorang hamba di hari kiamat, sehingga ditanya tentang empat hal, yaitu tentang umurnya dimana ia habiskan, tentang masa mudanya dimana ia binasakan, tentang hartanya darimana ia peroleh dan ia belanjakan, dan tentang ilmunya bagaimana ia mengamalkannya.” (HR. Al Bazzar dan Ath Thabrani)

Dapatkah kini kau menjawab dua dari pertanyaan diatas, jika tiba-tiba saja kau kehabisan waktu karena malaikat maut datang merenggut semua waktu yang ada di tanganmu saat kau masih terlena?

Lalu berapa waktu yang kau berikan untuk TuhanMu dalam 24 jam waktu yang selalu kau terima dalam sehari semalam?

Astagfirullah Ya Allah,…..

Demi masa!
Sesungguhnya manusia dalam kerugian,
Kecuali orang-orang yang percaya,
dan membuat kerja-kerja kebaikan,
dan saling berwasiat pada yang benar,
dan saling berwasiat untuk bersabar.
(Al Ashr:1-3)

[Sebuah perenungan di tengah upaya untuk tetap istiqomah

dan terus ber-husnudzon]

Ketika Cinta Terurai Jadi Perbuatan

June 22nd, 2007 by s-dewi77

Cinta menjadi sangat indah ketika ia terurai jadi perbuatan.
Ukuran integritas cinta adalah ketika ia bersemi dalam
hati… terkembang dalam kata… terurai dalam
perbuatan…

Kalau hanya berhenti dalam HATI, itu cinta yang lemah
dan tidak berdaya.
Kalau hanya berhenti dalam KATA, itu cinta yang
disertai dengan kepalsuan dan tidak nyata…
Kalau cinta sudah terurai jadi perbuatan, cinta itu
sempurna seperti pohon; akarnya terhunjam dalam hati,
batangnya tegak dalam kata, buahnya menjumbai dalam
perbuatan. Persis seperti iman, terpatri dalam hati,
terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amal.

Semakin dalam kita merenungi makna cinta, semakin kita
temukan fakta besar ini, bahwa cinta hanya kuat ketika
ia datang dari pribadi yang kuat, bahwa integritas cinta hanya mungkin lahir dari pribadi yang juga punya integritas. Karena cinta adalah keinginan baik kepada orang yang kita cintai yang harus menampak setiap saat sepanjang kebersamaan.

Rahasia dari sebuah hubungan yang sukses bertahan
dalam waktu lama adalah pembuktian cinta terus menerus. Yang dilakukan para pecinta sejati disini adalah memberi tanpa henti. Hubungan bertahan lama bukan karena perasaan cinta yang bersemi di dalam hati, tapi karena kebaikan tiada henti yang dilahirkan oleh perasaan cinta itu.

Cinta yang tidak terurai jadi perbuatan adalah jawaban
atas angka-angka perceraian yang semakin menganga lebar dalam masyarakat kita

Jika kita memiliki kesempatan utk menjadi seseorang yg
LUAR BIASA, Kenapa kita memilih utk menjadi biasa-biasa saja? Bukankah hidup ini hanya sekali saja?
Pastikan diri kita membawa MANFAAT untuk orang banyak.